Senin, 23 April 2012

Makanan Indonesia di kenal di Manca Negara


Restoran Indonesia di  kota Madinah

Madinah,Swara Rakyat - Kalau kita makan bakso  sudah biasa. Tapi kalau kita makan bakso di Negara lain itu yang menarik. Itu yang kami rasakan pada saat perjalanan umroh ke kota Madinah. Saat kami sampai di kota Madinah(8/4) sekitar  14.00 waktu setempat. kami menuju hotel  yang tidak jauh dari masjid Nabi yang bernama Mesjid Nabawi Al Munawaroh hanya berjarak kurang lebih 100 Meter dari hotel kami Dallah Taibah. Sesampai di sana kami langsung diarahkan oleh rombongan untuk mendapatkan kunci kamar untuk beristirahat sejenak. Setelah beristirahat  kami langsung menuju masjid untuk sholat Ashar sepanjang kami melihat begitu banyak orang berjualan dari tasbih sampai baju dan sejadah di jual di pinggir jalan.

Selesai kami sholat kami berjalan jalan sekitar masjid untuk melihat lihat. Kami melihat ada beberapa tempat jual makanan siap saji disana. Kamipun mencoba menyampirinya. Kami melihat ada restoran yang tidak begitu besar  tapi unik. Ternyata disana di jual makanan khas Indonesia. Bakso, Rawon  dan sebagainya. Ternyata makanan Indonesia tidak hanya kita bisa dapatkan di Indonesia saja  tapi di Madinah Arab Saudi kita dengan mudah dapatkan.

Yang unik disini para penjualnya pun berbahasa Indonesia, kita dengan mudah untuk memesan dari menu yang mereka tawaran. Mereka bukan orang Indonesia melainkan penduduk setempat, begitu fasih mereka berbahasa Indonesia.
Suasana di taman depan restoran Si Doel Anak Madinah
Restoran itupun mengunakan nama film yang sempat populer “sidoel Anak Sekolahan” tapi nama itu disesuakan dengan kota madinah sehingga di ubah menjadi "Si doel Anak Madinah". Harga juga tidak terlalu mahal untuk semangkok Bakso kita hanya mengeluarkan 10 riyal atau 26.000 Rupiah saja. Kami mencoba memesan  3 mangkok bakso dan 1 piring Rawon.  Rasa makanan sama dengan rasa makanan yg kita beli di Indonesia. Udara yang Sore tidak terlalu panas, kami begitu menikmati  bakso dan rawon ditambah dengan minuman es the manis dingin.

Dari pelayan yang dapat kami jumpai, restoran ini sudah ada dari 7 sampai 8 tahun yang lalu nama itu di dapat dari warga Indonesia yang tinggal disana.


Di Madinah maupun dimekah bukan hanya di restoran ini saja yang berbahasa Indonesia tapi hampir di setiap restoran ataupun toko para pelayan bisa berbahasa Indonesia walaupun dengan logat yang berbeda. Itu semua karena begitu banyak Jemaah Indonesia yang datang ke kota itu untuk beribadah.            





(AP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar