SAMARINDA – Geliat industri di Kaltim benar-benar luar biasa. Tengok saja konsumsi bahan bakar minyak (BBM), utamanya untuk menggerakkan mesin diesel. Solar yang mengalir ke Bumi Etam sungguh mencengangkan; mencapai 4,1 miliar liter. Disebut konsumsi terbesar di Indonesia.
| Ilustrasi |
Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kaltim merekam, pemakaian solar terbesar adalah dari sektor industri. Dari 4,1 miliar liter tadi, 3,89 miliar buat industri. Sisanya, 238 juta liter adalah kuota BBM bersubsidi.
BBM yang mengalir ke Kaltim tahun lalu --ditambah premium dan pertamax yang 600 juta liter-- adalah 4,73 miliar liter. Seberapa banyak 4,73 miliar liter itu? Mari membayangkan dengan memasukkannya ke mobil tangki 5.000 liter. Hasilnya, nyaris sejuta mobil tangki diperlukan untuk menampung!
Penggunaan BBM yang luar biasa menghasilkan pajak yang luar biasa. Untuk BBM dengan harga keekonomian (industri), pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sebesar 7,5 persen. Sedangkan yang bersubsidi dikenai 5 persen.
Tahun lalu, Dispenda Kaltim meraup Rp 2,1 triliun dari sektor ini. “Salah satu yang terbesar di Indonesia,” terang Kepala Bidang Pajak, Dispenda Kaltim, Busriansyah, saat ditemui Kaltim Post, Senin (5/3). Selain kendaraan besar (jumlahnya, menurut laporan pajak sekitar 8.000 unit), solar industri digunakan untuk bermacam-macam mesin, seperti pembangkit listrik di mal dan hotel.
Di sisi lain, keperluan solar yang luar biasa ini rawan penyelewengan. Solar subsidi yang harganya jauh lebih murah membuat banyak yang melirik dan berusaha mengalirkannya ke industri.
Indikasinya, kuota BBM bersubsidi selalu disebut cukup. Pernyataan yang sangat antagonis dibanding situasi di pelbagai SPBU yang selalu diantre kendaraan “peminum” solar.
Pemandangan ini juga bikin heran Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak. “Setiap kali rapat dengan BP Migas, mereka bilang kuota cukup tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa masih banyak antrean,” katanya, kemarin.
Menguatnya dugaan penyelewengan solar bersubsidi ini pun turut membuat Gubernur gerah. Soalnya, dia bahkan harus mengisi solar yang dijual eceran. “Pernah ketika ada kunjungan, solar di mobil habis. Saya datang ke dua SPBU di Samarinda, semuanya habis. Akhirnya beli eceran. Catat itu, Gubernur pun harus beli eceran,” ungkapnya.
Menurutnya, BBM yang dijual di pinggir jalan itu hanya kebocoran kecil. Ada rembesan yang jauh lebih besar. “Cek saja truk atau kendaraan besar yang antre berulang-ulang di beberapa SPBU. Solarnya itu dipakai untuk industri,” sebutnya. Faroek menyatakan, telah meminta kepolisian dan TNI mengawasi penyelewengan yang demikian.
KUOTA TERBATAS
Satu yang dikhawatirkan dari rencana naiknya BBM bersubsidi adalah ketersediaannya. Pendek kata, jangan sampai harga naik, susah pula didapat.
Menurut Amrullah, kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kaltim, pihaknya telah mengajukan kuota BBM bersubsidi dengan memperkirakan pertumbuhan kendaraan. Hingga kini, kuota BBM untuk 2012 belum diumumkan. “Kemungkinan sama seperti tahun lalu,” katanya.
Kuota Kaltim pada 2011 yakni 574 juta liter untuk premium dan solar 238 juta liter. Jika tidak ada penambahan kuota, besar kemungkinan antrean semakin menjadi-jadi.
Ini disebabkan pertumbuhan kendaraan di Kaltim yang terbilang tinggi. Sepanjang 2010 saja, pertambahannya menembus 205.448 unit, terbanyak sepeda motor. Total kendaraan terakhir (per Juli 2011), ada 1,3 juta di mana 1,1 juta di antaranya roda dua.
Menyikapi itu, Gubernur mengatakan sudah mengusulkan penambahan kuota. “Tapi sepertinya pusat tidak percaya kalau di sini BBM langka,” sesal Gubernur. (fel/zal)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar